Akehana Syukur Nikmat Supaya Kowe Lali Carane Sambat

Ketenangan hati adalah perkara yang paling didambakan oleh setiap orang. Ketenangan itu lebih dari sekedar kesenangan, ia adalah kedamaian. Kesenangan bisa dibeli, namun ketenangan adalah anugerah yang Allah berikan kepada hamba.

Salah satu cara agar jiwa mendapatkan ketenangan adalah memandang ke bawah dalam urusan dunia kepada orang lain. Hal ini merupakan petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ؛ فَهُوَ أجْدَرُ أنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ الله عَلَيْكُمْ

Artinya: “Lihatlah siapa yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, sebab yang demikian lebih patut agar kalian tidak memandang remeh nikmat Allah atas kalian.” (HR. Muslim: 2963).

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam berkata: “Sesungguhnya seorang hamba meskipun ia fakir, ia akan mendapati ada yang lebih fakir dari dirinya. Meskipun dia sakit, dia akan mendapati ada yang sakitnya lebih parah dari dirinya. Meskipun dia punya kekurangan fisik, dia akan mendapati ada yang lebih kurang fisiknya dan lebih besar ujiannya.”

Beliau kemudian melanjutkan: “Jika dia mau merenungi ini, maka dia akan sadar bahwa Allah telah melebihkan ia dari banyak manusia secara umum.” (Al-Bassam, hal. 287-288)

Teringat pepatah orang Jawa, “Urip iku mung sawang sinawang”, artinya hidup ini hanyalah saling memandang. Kita memandang orang lain hidupnya enak, orang lain memandang kita hidupnya enak. Hal ini jika tidak dikontrol, maka bisa saja menimbulkan efek kurang bersyukur atas nikmat dari Allah.

Oleh karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewejangkan kepada kita untuk melihat ke bawah dalam urusan dunia, tujuan utamanya: pandai bersyukur. Kata orang Jawa: “Akehana syukur nikmat, supaya kowe lali carane sambat!” Perbanyaklah mensyukuri nikmat, agar kamu lupa cara mengeluh.

Namun dalam masalah ketaatan dan ibadah, kita harus melihat orang lain ke atas dan bukan ke bawah. sehingga muncul rasa ingin berlomba dalam kebaikan dengannya. Allah berfirman:

فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ

Artinya: “Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)

Allah juga berfirman:

 وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ …

ِArtinya: “Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,...” (QS. Ali Imran: 133)


Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang pandai bersyukur. Aamiin.

Wallahu a’lam.


Temanggung, 12 Syawal 1447 / 31 Maret 2026

Ja’far Shodiq


Referensi:

Al-Bassam, Abdullah bin Abdurrahman. Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram 7. (2003). Makkah: Maktabah Al-Asadi.

Sumber gambar: https://unsplash.com/id/
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url