Keteladanan Utama (Syarah al-Ushuluts Tsalatsah Bagian 13)

Muallif berkata:

اعْلَمْ - أَرْشَدَكَ الله لِطَاعَتِهِ - أَنَّ الحَنِيفِيَّةَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ، وَبِذَلِكَ أَمَرَ اللَّهُ جَمِيعَ النَّاسِ وَخَلَقَهُمْ لَهَا، كَمَا قَالَ تَعَالَى : وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (الذاريات : ٥٦) ، وَمَعْنَى يَعْبُدُونِ يُوَحِّدُونِ.

Artinya: “Ketahuilah - semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya - bahwa agama yang hanif yakni agama Nabi Ibrahim, adalah engkau beribadah kepada Allah semata dengan memurnikan agama untuk-Nya. Dengan itulah Allah memerintahkan seluruh manusia dan menciptakan mereka untuknya, sebagaimana firman-Nya: ‘Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku’ (QS. Adz-Dzariyat: 56). Makna ‘beribadah kepada-Ku’ adalah: mentauhidkan-Ku.”

Kembali lagi kita mendapati akhlak yang bagus dari penulis kitab Ushuluts Tsalatsah ini, dimana penulis tidak bosan mendoakan para pembaca dengan doa yang indah; semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya. Ini adab yang bisa kita tiru, karena doa adalah senjatanya kaum mukmin. Sebagaimana perkataan Ibnu Qayyim,

“Doa adalah termasuk obat yang paling bermanfaat. Ia adalah musuh bagi bala (musibah); ia menolaknya, mengobatinya, mencegah turunnya, mengangkatnya, atau meringankannya apabila telah turun. Dan doa itu adalah senjata seorang mukmin.” (Ibnul Qayyim, 10)

Muallif kemudian menjelaskan bahwa agama yang hanif atau lurus, yang ia merupakan agamanya Nabi Ibrahim, inti dari ajarannya adalah agar manusia menyembah dan beribadah hanya kepada Allah saja serta memurnikan segala macam bentuk peribadatan kepada Allah.

Dan inilah inti dakwah para Rasul, bahwa semua yang diajarkan oleh para Rasul adalah sama; tauhid, meskipun hukum fiqihnya berbeda-beda. Nabi Musa mungkin memiliki tuntunan fiqih yang berbeda dengan Nabi Isa, Nabi Isa mungkin memiliki tuntunan fiqih yang berbeda dengan Nabi Muhammad. Namun esensi dari semua itu adalah dalam rangka mentauhidkan Allah.

Hal ini ditegaskan oleh firman Allah:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Muallif menafsirkan kata ya’budun (beribadah kepada-Ku) dengan makna yuwahhidun (mentauhidkan-Ku). Artinya bahwa beribadah kepada Allah itu dengan syarat hanya untuk-Nya dan meninggalkan kesyirikan.

Syaikh As-Sa’di berkata tentang ayat ini:

“Inilah tujuan Allah menciptakan jin dan manusia dan Allah mengutus semua Rasul untuk menyeru kepada tujuan tersebut. Tujuan tersebut adalah menyembah Allah yang mencakup berilmu tentang Allah, mencintai-Nya, kembali kepada-Nya, menghadap kepada-Nya dan berpaling dari selain-Nya. Semua tujuan itu tergantung pada ilmu tentang Allah, sebab kesempurnaan ibadah itu tergantung pada ilmu dan ma’rifatullah. Semakin bertambah pengetahuan seorang hamba terhadap Rabbnya, maka ibadahnya akan semakin sempurna. Dan inilah tujuan Allah menciptakan jin dan manusia yang diberi beban taklif, dan Allah menciptakan mereka bukan karena mereka diperlukan oleh Allah. (As-Sa’di, 813)

Dalam at-Tafsir al-Muyassar disebutkan:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia dan mengutus para rasul kecuali untuk tujuan luhur, yaitu beribadah hanya kepada-Ku semata bukan kepada selain-Ku.” (at-Tafsir al-Muyassar, 1/523)

Oleh karenanya, ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim adalah ajaran tauhid. Ini sama dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan kita tahu bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad adalah manusia yang sangat mulia, yang namanya selalu kita sebut dalam setiap shalat kita, maka meneladaninya adalah keniscayaan.

Dan keteladanan utama yang harus kita teladani dari mereka adalah menyembah dan beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama ini untuk-Nya, tanpa melakukan kesyirikan. Dan siapa saja yang meneladani mereka berdua dengan banyak keteladanan, namun satu keteladanan ini (tauhid) tidak dilakukan, berpotensi menjadikannya sia-sia. Allah berfirman:

وَلَقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَۚ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

Artinya: “Sungguh, benar-benar telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang (para nabi) sebelummu, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan gugurlah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang bisa meneladani ketauhidan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim dan seluruh Nabi serta Rasul. Aamiin.

Temanggung, 26 Syawal 1447 / 14 April 2026

Ja’far Shodiq


Referensi:

Al-Jauziyyah, Ibnu Qayyim. Ad-Da’ wad ad-Dawa’. (1997). Maroko: Dar al-Ma’rifah

As-Sa’di, Abdurrahman bin Nashir. Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan. (2001). Riyadh: Maktabah Ubaikan.

Nukhbah min Asatidzatit Tafsir. at-Tafsir al-Muyassar. (2009). Saudi: Majma’ al-Malik Fahd
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url